Zona Baca

Keabadian – Kahlil Gibran

Mampir minum, ya, sekedar numpang berteduh adalah kehidupan yang sedang kita jalani sekarang di muka bumi ini. Jika semua begitu fana, lantas apa yang kita bisa percayai sebagai keabadian? Adakah sesuatu yang abadi itu sebenarnya? Karena jika ternyata tidak ada, demi apakah yang sebetulnya sudah kita lakukan kemarin, dan sedang kita upayakan hari ini, dan kita rencanakan untuk esok? Layakkah itu?

Berbagai perenungan mengenai sesuatu yang abadi mengerucut kepada berpisahnya jiwa dari raga, kehidupan di baliknya, tujuan keberangkatan makhluk setelah nafas berhenti dihembuskan. Raga adalah representasi kefanaan dan jiwa dipercaya akan terus “hidup” dengan suatu cara, atau dengan cara apapun. Maka, kita pun mendambakan keberangkatan yang sempurna untuk melewati pintu gerbang keabadian.

Sang Guru menggambarkan keabadian sebagai cinta menembus waktu yang tak berhingga. Seperti halnya waktu, cinta sejati juga tidak bisa dibagi dan tidak mengenal ruang. Walaupun bahkan ada permulaan dalam cinta yang dianggap abadi, dan ini tentunya tidak memenuhi kerangka keabadian yang tidak mengenal awal dan akhir. Hanya satu yang tidak terbantahkan dalam alam kekal ini –mungkin juga karena manusia tak akan pernah bisa memahaminya secara utuh- adalah Sang Maha Pencipta itu sendiri.

Abadi juga adalah kenangan. Peristiwa yang berlangsung sekejap bagaikan bintang jatuh, namun kesannya melingkupi sepanjang sisa hidup kita. Seringkali kita tidak berhasil menemukan rahasia di balik peristiwa yang terjadi di kolong langit ini. Ketidakmampuan inilah yang membuat hidup kita terasa mengenaskan. Itulah mengapa disarankan melakukan segala sesuatu dengan penuh cinta, rasa yang sepenuhnya tumbuh dari dalam hati. Dengan demikian maka apapun yang kita hasilkan bisa dirasakan oleh manusia lain dan meninggalkan kesan yang tak mudah hilang.

Bukan berarti kita tidak bisa merasakan kekekalan di muka bumi ini. Para filsuf mempercayai perubahan adalah sesuatu yang kekal, demikian juga ‘pertentangan’ antara hati dan pikiran di dalam diri manusia, sebagai konsekuensi logis dari anugerah akal budi. Sang Guru percaya kedua unsur itu bisa dipertemukan di dalam sosok agung di dalam diri manusia. Sosok yang selama ini tertutupi oleh substansi kebendaan di dunia. Hanya bagi yang membutuhkan rekonsiliasi antara keduanya tadi yang bisa mencoba dan terus mencoba memunculkan keagungan diri sendiri, dan sekuat tenaga memutus rantai belenggu kehidupan berupa sensualitas. Saat intisari manusia ini tampil kemuka, maka tak ada lagi hal di dunia yang bisa membuatnya takut, bahkan kematian akan dilihatnya sebagai jalan bertemunya dengan Yang Maha Abadi.

Kita bisa menjadi abadi di bumi jika sejak sekarang melakukan sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi sesama manusia secara terus menerus. Dengan demikian, kehadiran secara ragawi tidak lagi diperlukan sekedar untuk mengabadikan sosok kita. Semoga kita bisa menjadi lebih kuat dalam meraih sesuatu yang tak lekang waktu di dalam setiap tarikan nafas kita. Selamat mengekal . . . .

Related posts

Leave a Comment